|
23 July 2009
Ada rasa gelisah mendalam. Bagai tsunami frustasi, Indonesia dipimpin manusia pintar tapi tak bermoral. Ada pula akhlaknya baik tapi tak cerdas. Ya...gelombang pemikiran Barat menambah sulit dibendung. Sekularisasi muncul dan mengikis anak - anak Indonesia. Kerinduan masa khilafah tak boleh sirna. Sebab kita putra/i Islam. Kaum yang dibanggakan, tapi herannya masih belum bisa bangun dari penindadan. Benar pula Hasan Al Banna berkata" Jika seorang pemuda hidup dalam penindasan ia akan melawan. Jika ia hidup dalam kesenangan ia cenderung berfoya - foya". Pilihan itu jelas sudah ada. Tinggal kita pilih mana?
Jiwa anak muda senantisa berkarakter revolusioner. Dia bertindak dengan intelektual pemikiran dan gagasan baru. Itulah yang sungguh dibutukan Indonesia. Bersinergi tentu dengan pengalaman. Kekuatan pemimpin muda telah terbukti dan sulit dibantah. Dia (anak muda) adalah warna baru kepemimpinan dunia. Lihat Obama, di usia muda karir sebagai Presiden direngkuhnya. Berkaca pada Muhammad, di usia belasan ia sudah bergelar "Al Amin". Usia 25 tahun Allah memberinya tongkat estafet kenabian. Ali tak kalah, jiwa mudanya berhasil membawa Islam ke dalam hatinya. Jadilah ia benteng pertama Islam di kalangan anak muda.
Satu yang pasti, pergantian pemimpin harus bisa menyerap keinginan kaum muda. Secara lebih tegas pemimpin muda Islam dibutuhkan negeri ini. Kita bermimpi SLDP menjadi wadah awal laboratorium anak muda. Calon penerus Muhammad dan siap memimpin dunia.
Allahu Akbar
Inggar Saputra
Alumni SLDP 1
.png)



